TUBABA – Viralitupenting.com
Seorang warga Tiyuh Penumangan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), bernama Sapri, menjadi korban dugaan penganiayaan setelah mempertanyakan transparansi dan sasaran penyaluran bantuan untuk kelompok nelayan setempat.
Peristiwa itu terjadi setelah Sapri mengkritisi pembagian bantuan nelayan yang dikelola melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) di bawah kepemimpinan Supardi M. Bantuan yang diduga tidak tepat sasaran tersebut memicu konflik hingga berujung pada tindak kekerasan yang menimpa dirinya.
Dipukul dan Dicekik Saat Pertanyakan Bantuan
Sapri mengungkapkan bahwa dirinya tiba-tiba didatangi oleh salah seorang anggota kelompok nelayan yang menerima bantuan, meski diketahui tidak memiliki kartu nelayan resmi.
“Pelaku Yandri sudah menunggu saya di rumah. Dia bilang, ‘kamu kenapa urusin urusan itu?’ Lalu dia langsung memukul pipi saya dan mencekik leher saya dengan keras,” ujar Sapri.
Penganiayaan tersebut diduga kuat terjadi akibat protes Sapri terkait pendistribusian bantuan nelayan yang dinilainya janggal dan tidak mengikuti mekanisme pendataan sebagaimana mestinya.
Punya Kartu Nelayan, Tapi Tak Pernah Terima Bantuan
Sapri mengaku heran karena meski telah lama memiliki kartu nelayan resmi dari pemerintah, ia tidak pernah menerima satu pun bantuan apa pun.
“Saya punya kartu nelayan dari pemerintah, tapi tidak pernah dapat bantuan apa pun. Sementara saya tahu ada bantuan-bantuan nelayan masuk ke Tiyuh Penumangan, tapi saya tidak pernah tercatat,” tegasnya.
Ia menduga kuat adanya ketidaktransparanan dan pemilihan penerima bantuan yang tidak sesuai aturan.
Bantuan Turun Tanpa Pendataan Jelas
Lebih jauh, Sapri menjelaskan bahwa tidak pernah ada pendataan atau koordinasi dari ketua kelompok nelayan maupun dinas terkait sebelum bantuan disalurkan.
“Ini bantuan siapa yang data? Siapa penerimanya? Tidak jelas. Tahu-tahu sudah dibagikan. Dan saya, yang punya kartu nelayan, malah tidak dapat,” ujarnya.
Kekecewaannya makin memuncak ketika bantuan terbaru berupa boks pembekuan ikan kembali tidak diterimanya.
Ketua Kelompok Mengaku Ajukan Proposal ke Kementerian
Saat meminta kejelasan, Sapri mendatangi Supardi M. Ketua kelompok nelayan itu mengaku bahwa bantuan yang turun merupakan hasil proposal pribadi yang ia ajukan ke Kementerian Perikanan, dengan hanya dua kelompok penerima yang berjumlah sekitar 15 orang seluruhnya berada dalam kendali dirinya.
“Padahal jumlah nelayan di Tiyuh Penumangan ini banyak. Tapi kenapa yang dihimpun untuk terima bantuan hanya 15 orang? Saya bingung, apa memang begini caranya?” ungkap Sapri.
Dugaan Pengondisian Bantuan dan Praktik Tidak Transparan
Sapri menilai distribusi bantuan yang hanya menyasar kelompok tertentu menunjukkan adanya dugaan pengondisian serta praktik tidak sehat dalam pengelolaan bantuan pemerintah.
“Kalau bantuan masuk dan yang dapat hanya itu-itu saja, ya bagaimana dengan nasib kami? Ini jelas tidak benar,” tegasnya.
Sapri Resmi Laporkan Pelaku ke Polres Tulang Bawang Barat
Atas peristiwa penganiayaan yang menimpanya, Sapri telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan pelaku, Yandri, ke Polres Tulang Bawang Barat.
Ia berharap aparat penegak hukum menindaklanjuti laporan tersebut secara profesional, sekaligus meminta pemerintah daerah dan Dinas Perikanan Tubaba turun tangan untuk menelusuri dugaan penyimpangan penyaluran bantuan nelayan di Tiyuh Penumangan.
“Saya hanya ingin keadilan. Baik atas penganiayaan yang saya alami maupun soal bantuan yang tidak jelas pendataannya,” pungkas Sapri.(***)














